TANPA ANDA SAYA TAK AKAN BERMAKNA

There are no groups to display.

Dengki Penghancur masa depan

Dengki, iri hati, hasad atau hasud ada di mana saja dan kapan saja. Bahkan bisa ada pada diri siapapun tanpa pandang bulu. Sejarah telah membuktikan, di kalangan ulama pun ada hasud. Konon, di perguruan tinggi pun juga tidak sepi dari hasud. Ironinya, justru para pemuka dan senior lah yang banyak memelihara kedengkian itu. Gejalanya terlihat ketika gosip-gosip murahan bertebaran di mana-mana, bahkan di kalangan kampus yang gudangnya orang ‘pinter’ pun tidak sepi dari gosip murahan itu, baik dari mulut ke mulut ataupun via SMS. Gosip murahan? Ya, karena isinya selalu mengenai aib dan keburukan seseorang ataupun kelompok yang seringkali kebenarannya sulit diterima oleh akal sehat. Ibarat asap tiada apinya. Padahal hubungan rasional, “ada asap karena ada api” sudah tidak terbantahkan lagi. Lalu, karya siapa gosip-gosip murahan itu? Al Qur’an telah menginformasikan, bahwa ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga” (Qs. an Nûr 11).  Read More

Yang baik ke Neraka, yang Buruk ke Surga

Sudah mafhum semua bahwa bulan Ramadlan adalah bulan penuh rahmat, sehingga Ta’mir masjid bermotivasi tinggi untuk memberikan ‘suguhan’ santapan ruhani bagi jama’ahnya, terutama kultum (kuliah tujuh menit) sesudah shalat Tarawih. Dan biasanya materi kultum dari hari ke hari nyaris sama, yaitu motivasi beribadah dengan menginformasikan betapa besar ganjaran ibadah di bulan suci Ramadlan. Karenanya di bulan itu kaum muslimin berbondong-bondong ke masjid untuk mengikuti shalat Tarawih karena ingin memperoleh ‘BLT’ ganjaran yang berlipat ganda besarnya itu. Kemudian pada bulan berikutnya, bulan Syawal dan Dzulqa’dah adalah bulan penuh undangan walimatus safar alias syukuran haji. Di sana pun juga mendapat ‘suguhan’ dari Abah Kyai Haji Fulan atau Nyai Hajjah Fulanah, ustadz atau ustadzah yang diundang oleh shahibul hajjah untuk memberikan santapan ruhani. Isinya pun tidak jauh berbeda dengan kultum, yaitu motivasi ibadah haji dengan menginformasikan betapa istemewanya orang yang mendapat panggilan Allah ke ‘rumah’-Nya untuk mengikuti ‘wisuda’ calon penghuni surga. Berita-berita semacam ini tentu menggiurkan. Tetapi entah karena apa masyarakat kita lebih menyukai fadhilah-fadhilah ibadah dengan iming-iming pahala dan surga daripada mengkaji hakikat ibadah yang sesungguhnya. Padahal di balik motivasi seperti itu ada ‘virus ganas’ yang selalu mengintai orang-orang ahli ibadah.   Read more . . .

Agama Bukan untuk Tuhan

Selain pandangan kaum ateis yang anti agama, terdapat dua pandangan yang ekstrim tentang kedudukan agama dan manusia. Yaitu pandangan klasik (fundamentalisme) yang menganggap manusia untuk agama; dan pandangan modern (humanisme) yang menganggap agama untuk manusia. Terlepas pro-kontra terhadap kedua pandangan tersebut, kalau boleh membuat analog, agama ibarat buku atau tulisan ini. Orang bebas berpandangan terhadap tulisan ini, menganggap baik atau tidak baik, benar atau tidak benar, bahkan bebas pula digunakan untuk tujuan apa saja. Tetapi bagi orang yang sadar akan fungsi tulisan ini, tentu akan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yakni untuk dibaca dan dipahami sebagai sarana pengembangan ilmu dan amal demi ’kesempurnaan’ hidupnya. Sementara bagi orang yang berniat jahat, mungkin saja dibaca tetapi untuk bahan menghujat. Demikian halnya dengan agama, . . . Read more . . .

 

Syukur yang Sejati, Bukan untuk Tuhan

Orang Jawa bilang, ”sukurlah… atau untunglah …”, terutama ketika kebaikan diperoleh atau terhindar dari suatu musibah yang lebih besar, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Perkataan seperti ini merupakan ungkapan reflektif yang menunjukkan rasa lega, puas, senang, dan rasa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Sebagaimana halnya ketika seseorang mendapat kenaikan pangkat/jabatan, anak lulus ujian, membeli mobil baru, atau selamat dari kecelakaan, secara reflektif berucap ”alhamdulillah”. Semua itu dalam bahasa agama dinamakan ”syukur”, meskipun masih dalam tingkatan syukur bersyarat (parsial), yaitu syukur sebagai akibat atas sesuatu atau kondisi tertentu yang lebih baik. Namun, tentu saja, bukan berarti buruk atau salah. Hanya saja, rasa syukur semacam itu relatif lemah dan  tidak tahan lama. Bahkan seringkali tidak benar-benar bersyukur dengan tulus melainkan hanya sekadar ungkapan rasa puas sesaat.   Read more

Jika Rumput Tetangga Nampak Lebih Hijau

Hidup ini bagaikan panggung sandiwara. Orang melihat orang. Ironinya yang dilihat selalu yang enak-enak, dan jarang sekali melihat yang tidak enak. Padahal yang kita rasakan dalam hidup ini tidak selalu enak. Itulah SunnahNya yang telah tersekenario sejak diciptakan-Nya alam semesta. Karena itulah orang Jawa bilang, ”hidup ini hanyalah sawang sinawang”, saling memandang orang lain lebih bahagia daripadanya. Padahal realitanya tidaklah selalu demikian. Orang yang nampaknya sengsara pun terkadang justru hidupnya lebih bahagia daripada orang yang berpangkat dan berharta. Begitupun sebaliknya. Namun karena kita selalu saja beranggapan bahwa ”rumput di ladang orang lain selalu nampak lebih hijau”, maka kita menjadi rentan terhadap penyakit hati, baik penyakit syahwat maupun syubhat. Coba, misalnya, kalau kita sebagai seorang laki-laki selalu berpandangan bahwa istri orang lain selalu nampak lebih cantik atau lebih ’hot’ daripada istrinya, apalagi ia baru saja menjanda, maka hati kita akan selalu ’ngeres’, mengandai-andai yang bukan-bukan, dan lama-lama bisa pula berperilaku menyimpang. Dampaknya istri cemburu, dan bisa-bisa rumah tangga berantakan. Sementara ”maksud hati memeluk dia tapi apa daya tangan tak sampai”, maka tentu yang kita dapat hanyalah kekecewaan belaka, dan ujungnya pun menjadi stres.   Read more

Teori Cermin Imam al Ghazali

Di antara pesan yang terpenting dalam Ilmu Tasawuf adalah penyadaran diri manusia akan sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Sebab yang kekal hanya Tuhan. Karena itu hidup ini benar-benar akan bermakna jika selalu diorientasikan kepada Yang Maha Kekal, Allah Swt. Sebaliknya, apabila kesadaran ini tiada, berarti ia terperangkap serba kefanaan. Ia pun lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena ruh atau sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat pada raganya. Begitu sukma meninggalkan raga dan kembali kepadaNya, maka ia dianggap sudah tiada. Ironinya, mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan, detik demi detik kehidupannya justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau jasmaniyah belaka? Al-Ghazali menjawab masalah ini dengan “Teori Cermin” (al Mir’ah) yang tertulis dalam karya spektakuler, Ihyâ’ ‘UlûmuddînRead more

Reorientasi Paradigma Pembangunan

Reorientation of Development Paradigm: Review of the theory of Third World Development

The third world development theories, especially in economic development, tend to create and apply the paradigm of economic development partially to the conglomerate. Though the economic paradigm which orienting in conglomerate (in Indonesia) have been proven to produce the endless economic crisis. In consequences not to make second economic crisis, hence need reorientation of economic development which orienting  to the people, that is the nationality economic system which proven to hesitate facing the crisis. It is also commended by the founding father on  the clrarifying of  section 33 UUD 1945.

Teori-teori pembangunan dunia ketiga, khususnya pembangunan ekonomi, cenderung mengembangkan sistem perekonomian liberal-kapitalisme yang menciptakan dan menerapkan paradigma pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada segelintir orang yang bernama konglomerat. Padahal di Indonesia telah terbukti bahwa paradigma pembangunan ekonomi yang berorientasi konglomerasi berdampak menuai badai krisis ekonomi yang berkepanjangan. Karena itu agar tidak terjadi krisis ekonomi gelombang kedua, maka perlu segera reorientasi paradigma pembangunan ekonomi yang benar-benar berpihak pada rakyat banyak yaitu sistem ekonomi kerakyatan, yang telah terbukti ketangguhannya dalam menghadapi badai krisis ekonomi. Sistem perekonomian inilah yang diamanatkan oleh founding father melalui penjelasan pasal 33 UUD 1945.

Key words: theory, orientation, development, conglomeration, teori, orientasi, pembangunan, konglomerasi   . . . read more . . .

Proliferasi Definisi Kepemimpinan dalam Perspektif Teori

Proliferation Of Leadership Definitions In Theory Perspective

The definition of leadership concept very determined by the researcher perspective and the aspect of interesting phenomenon to researcher, so that nowadays there are still some controversies, whether between the definitions of leadership and also its equation has difference meaning with management. That’s why impossible to create a universal definition of leadership, because impossible to apply it universality also, moreover phenomenon and interest changes every time. Thereby the thesis, that proliferation of leadership definition do not progressively clarify the leadership concept,  but exactly blur the meaning of leadership, it is logic and rational enough for the truth to be received.   

Pendefinisian tentang konsep kepemimpinan sangat ditentukan oleh perspektif dan aspek dari fenomena yang menarik bagi peneliti, disamping juga masih terdapat beberapa kontroversi yang sampai sekarang pun masih berlangsung, terutama perbedaan atau persamaan antara kepemimpinan dan manajemen. Oleh karena itu tidak mungkin dimunculkan definisi kepemimpinan yang universal, sebab tidak mungkin dapat diberlakukan secara universal pula, apalagi fenomena dan kepentingan setiap waktu dapat berubah. Dengan demikian tesis, bahwa “proliferasi definisi kepemimpinan tidak semakin memperjelas makna kepemimpinan tetapi justeru semakin mengaburkan makna kepemimpinan”, adalah cukup logis dan rasional untuk dapat diterima kebenarannya.

Key words: proliferation, definition, leadership, proliferasi, definisi, kepemimpinan . . . read more . . .

Paradigma Pembangunan Era Global

The concept of national development in globalization era that is not contradicting economy development and generalization as a foothold is needed. It is the development concept that stands on public empowerment and participation. Because people who able to face the globalization movement is the one who have power,  they are civil society. Establishing civil society need the concerning of power to empower the society. Therefore the existence of Good Governance is needed. Thereby, power and empowerment as the paradigm in the national development era is appropirate to be promoted in the national and social life.

Dalam era globalisasi konsep pembangunan nasional yang dibutuhkan adalah konsep pembangunan yang tidak lagi mempertentangkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasilnya sebagai tumpuannya, melainkan konsep pembangunan yang bertumpu pada pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. Karena pada dasarnya yang mampu menghadapi arus globalisasi hanyalah masyarakat yang berdaya yaitu masyarakat madani (civil society). Dan untuk mewujudkan masyarakat madani (civil society) tersebut dibutuhkan kepedulian dan keberpihakan kekuasaan (power) untuk memberdayakan (empowering) masyarakatnya. Oleh karena itu Good Governance sangat diperlukan eksistensinya. Dengan demikian dapatlah dikatakan power dan empowerment sebagai paradigma pembangunan nasional era globalisasi sangat tepat untuk dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Key words: power; empowerment, empowering, development, globalization, pemberdayaan, pembangunan.   Read more ….
.

Gerakan Rakyat Membangun Perlindungan bagi Anak Jalanan

Street kid as well as children in common have the rights wich should be protected, moreover Indonesia has ratified the Convention of Children Rights which obligate the state, society and family to fulfil and protect it. Therefore all sides are intended to concern on their destiny. There are four alternatives strategy that proposed to promote the emergence of Public movement. First, build new paradigm that street kids have the human rights. They are not ‘ city scum’ or ‘pariah’ that should be removed, but they need a good handling (humanism) .  Second, construct society consiousness that child is God’s appropriation which have rights that need to be kept and covered. Therefore theory of “child is parents ownership” need to precedence, because it is susceptible toward children rights distortion. Third, build alternative education which involves all sides in the society including children it self without losing their job in the street. Fourth, build enterpreneurship to provide economy sector for street kids who wants to be better in their future.

Anak-anak jalanan sebagaimana anak-anak pada umumnya mempunyai hak-hak yang harus dilindungi, terlebih lagi Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak, yang mewajibkan kepada negara, masyarakat dan keluarga untuk memenuhi dan melindunginya. Namun jika semua pihak tidak ada kepeduliannya terhadap nasib mereka maka tiada jalan lain kecuali mendorong munculnya gerakan rakyat. Ada empat alternatif strategi yang diusulkan untuk mendorong munculnya gerakan rakyat ini, yaitu: Pertama, membangun paradigma baru bahwa anak-anak jalanan mempunyai hak azasi manusia. Mereka bukanlah ‘sampah kota’ atau ‘sampah masyarakat’ yang harus disingkirkan tetapi perlu penanganan yang arif (manusiawi).  Kedua, membangun kesadaran masyarakat bahwa anak adalah amanah Tuhan yang harus dipelihara dan dilindungi hak-haknya. Oleh karena itu rumusan bahwa “anak adalah milik orang tua” perlu dipertimbangkan kembali, karena sangat rentan terhadap penyimpangan atas hak-hak anak. Ketiga, membangun pendidikan alternatif yang melibatkan banyak pihak di masyarakat, termasuk anak-anak sendiri dengan tanpa meninggalkan pekerjaannya di jalanan. Keempat, membangun kewirausahaan untuk menyediakan lapangan ekonomi bagi anak-anak jalanan yang menginginkan perbaikan nasib di masa depannya.

Key Words: Public movement; protection; Children rights; Street kid, gerakan rakyak, perlindungan, hak anak, anak jalanan.  Read more